
Kawan, pernahkah kalian mendapat surat cinta? Surat cinta terkadang sulit untuk dilupakan apa isinya dan siapa pengirimnya. Apalagi jika surat cinta tersebut isinya bisa menjadi sebuah azzam dalam diri kita. Sekedar mau share, saya pernah nih dapet surat cinta ketika Mu'allimin kelas 1. Surat cinta itu dibuat oleh sahabat saya bernama Zaira Siti Meccamedina. Loh? aneh? Kenapa aneh..? Karena biasanya surat cinta itu deiberikan dari lawan jenis.. Ya kann..?! (hihi, yang wajahnya merah berarti ngaku tuh..) Hayu ah langsung ajah...
Masih bergelut dalam masalah cinta nih. Karna kelas 1 Mu'allimin nuju memejeuhna (seneng-senengnya) ngobrolin tentang cinta. Bahkan kalo kawan-kawan sekalian pernah sekolah di pesantren nih, menginjak kelas 1 Mu'allimin tuh obrolannya ga jauh tentang nikah.. Wow, ada apa ini..?? Hihi, ya setidaknya begitulah yang saya dan teman-teman rasakan pada saat itu. Merasa peduli terhadap sahabatnya yang sedang dilanda jatuh cinta (prikitiiwww..!), sahabat saya yang satu ini mengirim surat untuk sahabat-sahabat tersayangnya.. Sekedar mengingatkan dan saling dukung aja tentang masalah ini..(a lovee..:D ). Dan saya rasa, saya perlu meng-share-kannya pada kawan-kawan sekalian nih. Karena isinya sangat bagus.. Ga pernah bosen deh baca surat cinta ini... Yuu capcus cyiin... :D
(saya share yang pentingnya saja yaa.. ;) )
"...boleh jadi kamu mebenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." QS. Al-Baqarah:216
"Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja, sebab bisa jadi suatu saat orang yang kau cintai akan menjadi orang yang paling kau benci, dan Bencilah orang yang kau benci dengan sekedarnya saja, sebab bisa jadi suatu saat orang yang kau benci menjadi orang yang paling kau cintai" Ali bin Abi Thalib r.a.
Apa daya atas ilmu kita? Dibandingkan ilmu Allah???
Ukhtii, ana hanyalah hamba yang lemah, ana pun mungkin masih belum mengerti masalah 'cinta' ini, tapi ana hanya inginkan yang terbaik untuk kalian sekemampuan dan ilmu yang ana miliki...
Pengetahuan ana mungkin tak sebanding dengan ilmu yang kalian miliki, bukannya tak mungkin kalian lebih mengetauhi perihal ini semua ini dariku..
Mengenai kejadia-kejadian baru-baru ini, sahabatmu, ana, hanya bisa berkata.. "Maafkana ana yang belum bisa memberikan yang terbaik untuk kalian, ana hanya bisa berdoa kepada Allah untuk kebaikan kalian, dalam segala hal."
Ketika kalian dalam kebingungan, dalam suatu masalah. Jika ana punya jawaban atau ilmu yang harus ana sambpaikan sebagai sebuah nasihat, baik yang baik atau yang buruk, ana akan katakan kepada kalian. Sahabatku, ana tak mau kalian merasakan saki, baik itu jasad, ruhani, sekarang atau nanti. Ana akan membagi pengetahuan ana kepada kalian...
Tapi sahabat, sungguh sulit suatu masa, ketika ana sebagai sahabatmu, tak bergeming, tak tahu apa yang harus dilakukan, tak tahu apa yang harus dikatakanketika terjadi suatu peristiwa, yang ana sendiri mungkin kalian juga tahu itu salah...
Maafkan ana yang lemah.. Tak mampu bebrbuat sesuatupun..
Jadi teman, maafkan jika suatu saat ana tiba-tiba diam, seperti yang marah kepada kalian, namun sebetulnya, (walaupun sedikit iya) tapi lebih banyak ana marah apada diri ana sendiri yang tak mampu melakukan apapun untuk kalian..!!!!
Rasa cinta itu fitrah, tapi bagaimana caranya agar kita merasakannya dengan cara yang fitrah pula? Merasakannya dengan Ridho dan izin Allah..??
Ada sedikit kutipan...
Aku mulai cerita ini dengan "kelengahan hati". Saudariku, apa kau tahu, bahwa ilmu yang kita dapati dan fahami, bahkan ia kita jaikan prinsip bisa dengan mudah terlupakan manakala hati lengah? "Tidak ada kata 'pacaran' dalam kamus hidupku". "Wanita shalihah akan selalu berusaha menjaga diri, hati dan kehormatannya." Itu adalah sebagian banyak prinsip yang berusaha ku jalani. Atas nama persahabatan, ukhuwah, adik-kakak, atau apalah itu namanya antara ikhwan dan akhwat. Aku yakin ketika orang yang memang pada saat ini menjalani ukhuwah dengan ikhwan atau sebaliknya membaca alinea ini akan berusaha mencari-cari alasan dan pembenaran atas apa yang dijalani saat ini seperti aku dulu. Bahwa kami tidak melakukan apa-apa, hanya sekedar.., bahwa kami..., kami hanya..
Yang ingin aku katakan saat ini hanyalah satu "jujur;ah pada hati nuranimu sendiri," kau bisa mencari seribu alasan untuk mengungkiri dan menyanggah terhadap argumen orang lain, tapi tidak terhadap hatimu sendiri. Aku katakan, tidak ada persahabat yang sejati antara ikhwan dan akhwat. Tidak ada jalinan persaudaraan yang murni antara ikhwan dan akhwat yang memang tidka ada ikatan darah diantara mereka.
Sahabatku, rasa simpatik tidak dapat disangka-sangka hadirnya. Persahabatanmu dengannya, atau ukhuwah yang kalian bangun atas nama adik dan kakak tidak bisa menjamin apa yang ada dalam hati kalian. Sewaktu-waktu "rasa yang berbeda" itu bisa hinggap dihatimu, atau dirinya, atau bahkan keduanya.
Aku hanya ingin katakan, segeralah hentikan langkahmu dari sekarang, sebelum kau menyesal, segeralah bertindak tegas, perbaharui kembali niat, azzam awalmu untuk menjaga iffahmu.
Jangan pernah bermain-main dengan hati, sekalinya kau masuk kedalam lingkaran itu, maka tidak akan semudah itu kau keluar. Sulit mengobati luka karenanya.
Yang aku sampaikan bukan berarti menyeru kepada setiap perempuan untuk jadi robot yang tidak berprasaan, bukan itu maksudku. Setiap manusia diberikan kecenderungan rasa terhadap sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Rasa kagum terhadap seseorang merupakan hal yang tidak disadari datangnya dan tidak dapat semudah itu kita hapus dalam pikiran. Dan aku pikir rasa itu bukan untuk dihapus, tapi di atasi. Karena menghapus sesuatu dalam hati bukan seperti menghapus coretan pinsil dalam kertas, menghapus apa yang ada dalam hati dengan paksa bukanlah solusi tepat menurutku.
Akan lebih indah jika rasa itu terbingkai rapi dalam hati. Dan satu lagi, sesungguhnya kitalah yang menyebabkan rasa itu terus tumbuh setelah hadirnya. Kita sendiri yang menyiramnya denga tetesan harap.
Ah, betapa banyak sebetulnya yang ingin ku ungkapkan dan ku bagi dari pengalamanku. Tapi walau sedikit, aku harap ini bisa jadi pelajaran bagi sahabat-sahabatku seiman. Terakhir ingin ku katakan "Tegak berdiri dalam hembusan badai cinta adalah mulia, jangan sampai goyah, tancapkan kedua kakimu di jalan yang Maha Memiliki Cinta. Titipkan cinta itu pada-Nya, niscaya kau takkan kecewa dan menyesal."
Semoga kita takkan pernah ada kata menyesal bagi kita untuk mencinta, karena semoga, kita memang mencintai orang yang pantas untuk di cintai, dan itupun cinta karena Allah SWT.. Serahkan semua cinta kita untuk Allah, Yang Maha menebar Cinta di seluruh alam.
Wallahu 'alam..
Itulah sedikit cerita yang ingin saya bagi dengan kawan-kawan sekalian. Betapa saya sangat bersyukur mendapatkan sahabat seperti dirinya. Dan saya sangat bahagia mendapatkan surat cinta ini.....^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar