
Kemarin-kemarin tuh entah apa yang membuat saya tergerak untuk membuka buku-buku lama saya.. Yah, sebut aja buku diary, walau itu hanya buku biasa dengan merek Mirage (tau lah, gimana tipisnya itu buku..) tapi say tetep menganggap buku itu berharga.. Toh semua cerita yang ingin saya ceritakan diluapkan pada buku Pink-Ungu Mirage itu.. Setelah puas ketawa-ketawa baca diary (karena isinya yang bodor banget, jadul dasar! budak leutik..hahah) saya baru sadar, ternyata ada beberapa lembar kertas yang terselip di buku diary kesayangan saya itu.. Kalo saya ga salah, salah satu kertas itu pemberian dari a'abu. Dulu itu yah, jaman-jamannya tentang percintaan. Gimana seorang santri yang dilanda jatuh cinta, tetapi harus tetap menjaga segala keistiqomahannya. Wah, seru deh pokonya ngalamin masa-masa seperti ini. Nah, karna lagi menggebu-gebunya masalah cinta nih (jiaaahhh), a'abu yang saya anggap sebagai kakak, beliau ngasih suatu kertas yang isinya wah, edass deh..hehe disini saya akan coba meng-copy-kannya buat kawan-kawan seklaian.. Tolong disimak yah.. ;D
"Aku senang dan bangga, karena Engkau selalu melidnungiku dari kejahatan dunia ini, walaupun aku tahu betapa seringnya aku melupakan-Mu,,, Wahai pencipta seluruh alam semesta....aku benar2 mengharapkan Engkau selalu menemaniku dalam setiap keadaan yang aku jalani dalam hidup ini.
Sahabat, ijinkan saya berbagi...!
Dulu, saat saya masih anak ingusan, saya pernah mengirim sebuah surat cinta kepada seorang gadis. Layaknya anak-anak, surat itu saya titipkan kepada teman sang gadis dengan harapan cinta saya akan diterima. Harapan saya terwujud. Tak berapa lama, sang gadis membalas surat saya. Surat itu mengubah hidup saya. Dan saya ingin, anda pun mengalami hal yang sama.
--------------------------------------
Kepada Akhi
Di tempat
Bismillahirrahmanirrahiem
Seuntai do'a, semoga Allah senantiasa menaungi kita dengan rahmat dan ridho-Nya. Serta dianugerahi inayah untuk senantiasa mengukir kebaikan dilembar kebaikan.
Akhi 'afwan suratnya baru bisa Ukhti (sepertinya kurang enak di dengar, saya ganti jadi ana aja gapapa ya?!)balas sekarang dikarenakan beberapa hal. Ana telah baca dan Insya Allah paham maksud Akhi dalam surat itu. Sebenarnya ana merasa bersalah atas apa yang terjadi. Bagi ana, kejadian/seperti ini sangat-sangat ana jaga agar tak terjadi. Karena hal itulah ana takutkan selama ini. Namun sebenarnya ana pun menganggap hal ini sebagai peringatan bagi ana untuk intropeksi diri terhadap segala tingkah laku yang mungkin menyebabkan orang lain (lawan jenis) terkotori hatinta tanpa ana sadari.
Akhi, ana hargai rasa simpati Akhi yang disampaikan dalam surat. Namun, kembali lagi ke awal, masalah ini sangat prinsipil buat ana. Sehingga dalam hal ini, ana merasa perlu bertindak tegas. Ana tahu maksud dan tujuan Akhi baik. Tapi, dalam hal ini siapa yang menjamin hal itu (kebaikan) akan tetap istiqomah? Apapun bisa terjadi, sampai hal terburuk. Mungkin Akhi berpikir ana terlalu berprasangka dan berpikir terlalu jauh. Tapi apa yang ana nyatakan ini bukan tanpa sebab dan alasan, karena hal seperti ini pernah ana alami. Dan dari situlah ana banyak berlajar dan sampai akhirnya ana berkomitmen "Berinteraksi sekecil mungkin dengan lawan jenis bahkan menolak segala hubungan yang tidak perlu dengan mereka". Dan sampai saat ini dan insya Allah untuk seterusnya hal ini akan ana pegang. Sampai tibanya seseorang yang Allah takdirkan sebagai "teman sejati" dalam kehidupan ana.
Ana akan paham jika Akhi tidak setuju dengan pernyataan ana sebagaimana teman-teman (ikhwan) ana waktu SMA dulu. Tapi, ana pun yakin Akhi akan mengerti akan hal itu, karen Akhi pun jauh lebih tahu banyak tentang 'pergaulan islami' dan 'hijab' daripada ana. Semua itu, seperti yang ana katakan, merupakan refleksi dari rasa takut ana terjebak dalam kondisi yang menyebabkan ruhiyah kita menjadi rusak. Dan bagimana pertanggungjawaban kita nanti di majlis Allah SWT. atas hal ini? Mungkin selama ini kita (ana)tidak sadar akan lintasan-lintasan hati seperti ini dan merasa aman Padahal, disisi lain, kenikmatan-kenikmatan untuk bisa berkhalwat dengan-Nya tersisihkan desikit demi sedikit sampai akhirnya hilang. Dan alangkah ngerinyabila pada saat itu tiba-tiba Allah mengambil kembali seluruh hidayah-Nya, kemudian pada saat itu maut datang menjemput. Lalu siapakah yang akan menjamin keselamatan kita?
Seperti yang telah ana katakan tadi, ini sebuah perenungan bagi ana untuk intropeksi diri dan ini merupakan sebuah jalan (hidayah) dari-Nya, wallahu 'alam.
Akhi, 'afwan jika ana terlalu banyak 'menceramahi' dan membuat Akhir merasa 'diceramahi'. Semuanya merupakan ungkapan isi hati ana yang ingin ana katakan dan semua itupun hanya sebatas apa yang ana tahu. Masih banyak yang perlu ana pelajari dan pahami. Mungkin dalam hal ini pun masih banyak yang perlu ana pelajari kembali dan memperbaiki pemahaman, pola pikir yang mungkin salah.
Mungkin, jwaban ini bisa mewakili pertanyaan (permintaan) Akhi. Ana tidak bisa bicara terlalu banyak dan ana meminta maaf sekiranya apa yang telah ana sampaikan ini menyinggung atau membuat sakit hati. Insya Allah, apa yang ana katakan tidak di dasarkan kepada benci atau apa. Tapi karena sebuah ikatan persaudaraan seiman. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita.
Wassalam
-------------------------------
Sejak saya menerima surat ini, saya mengenal Hakekat Cinta. Bagaimana dengan anda...?"
Begitulah kira-kira. Saya hanya ingin berbagi, tidak bermaksud menggurui. Karena dalam hal ini pun saya masih sangat kurang dalam segalanya. Mudah-mudah kita bisa beristiqomah dengan apa yang kita pegang, karena terkadang ilmu yang kita dapati dan pahami, bahkan ia kita jdikan prinsip bisa dengan mudah terlupakan manakala hati lengah. Maka dari itu, marilah kita saling menasehati dan mengingatkan. Tidak ada kata terlambat untuk memperkuat azzam dan keistiqomahan kita. Muda-mudahan Allah selalu menyertai langkah kita. Aamien..
*dikutip dari http://insanmuhamadi.blog.friendster.com/2008/09/surat-cinta/
imuhamadi.wordpress.com
1 komentar:
blogwalking
ukhti..
salam kenal
(findingnova.blogspot.com)
Posting Komentar